Jokowi

Joko Widodo : Saya Bukan Anak PKI

Calon presiden nomor urut 01, yang juga merupakan incumbent, Joko Widodo, mendapatkan isu yang tidak sedap dan sangat mengganggu. Banyak media yang mengatakan bahwa Jokowi –begitu ia biasa dipanggil, merupakan anak keturunan PKI. Isu ini mau tidak mau menggemparkan negara karena luka lama yang belum kering.

Bagai bola yang menggelinding, isu ini juga tersebar secara liar. Banyak media online menyebar berita yang bisa dikatakan menyudutkan ini. Namun, secara langsung Jokowi membantah bahwa ia merupakan anak PKI.

Hal tersebut mau tidak mau mempengaruhi elektabilitas dari calon petahana tersebut. Terlebih ketika di media tersebar foto ketua CC PKI DN. Aidit dengan seseorang yang mirip dengan Joko Widodo. “Saya baru tiga tahun waktu itu. Masa ada komunis balita?”, seloroh Joko Widodo saat ditanya perihal foto yang tersebar tersebut.

Luka Lama yang Sulit Sembuh

Isu anak PKI yang menerpa calon presiden Joko Widodo bisa menyebar dengan sangat cepat dan luas tidak terlepas dari adanya memori buruk bangsa Indonesia terhadap PKI. Tidak hanya tahun 1965, pemberontakan yang digalang PKI sebenarnya sudah terjadi beberapa kali.

Pada zaman pra kemerdekaan, terjadi kerusuhan di Banten sekitar tahun 1926. Waktu itu, partai beraliran komunis melakukan pemberontakan kepada pemerintah yang sedang memimpin. Namun, pemberontakan tersebut akhirnya bisa digagalkan.

Setelah itu, PKI dengan nama partai ini, melakukan pemberontakan di Madiun. Pemberontakan tersebut terjadi pada tahun 1948 atau di awal kemerdekaan Indonesia yang direbut dengan susah payah dan penuh perjuangan.

Dipimpin oleh Musso, PKI hendak melakukan kudeta. Mereka membantai cukup banyak ulama –yang dianggap sebagai dukun, santri dan masyarakat umum. Bahkan, Musso mengumunkan adanya Dewan Revolusi yang mengambil alih kekuasaan Indonesia dari tangan Bung Karno. Namun, akhirnya pemberontakan ini gagal, terutama setelah Bung Karno berpidato dan menyuruh warganya memilih bergabung dengan Indonesia atau tidak.

Ketika pemberontakan kedua gagal, ternyata PKI masih menyimpan rasa penasaran yang tinggi untuk mengambil alih kekuasaan. Oleh karena itu, dilakukan lagi pemberontakan pada 30 September 1965 yang dipimpin oleh Ketua CC PKI DN. Aidit.

Pemberontakan kali ini dilakukan dengan menghembuskan isu adanya Dewan Jenderal yang ingin mengganti Panglima Besar Revolusi Indonesia, Bung Karno. PKI membantai jenderal terbaik Angkatan Darat Indonesia dan membuangnya di lubang buaya. Pemberontakan ini gagal setelah pemimpin mereka tertangkap dan bahkan konon Aidit ditembak mati di Boyolali.

Perjalanan panjang tentang pemberontakan PKI mau tidak mau menggores luka yang begitu dalam di sanubari warga Indonesia. Oleh karena itu, ketika isu tersebut menerpa calon presiden Joko Widodo, maka mereka yang merasa memiliki kenangan pahit menjadi terngiang dan akhirnya terpengaruh.

Berawal dari Jokowi Undercover

Di awal pencalonan dirinya sebagai calon presiden pada pemilihan tahun 2019, tersebar buku Jokowi Undercover yang ditulis oleh Bambang Tri. Buku tersebut membahas tentang seluk beluk kisah hidup Joko Widodo di mana salah satunya mengatakan bahwa Joko Widodo adalah anak dari tokoh PKI yang cukup berpengaruh di Jawa Tengah.

Buku tersebut beredar luas di masyarakat awam dan akhirnya menjadi bahasan yang tiada henti. Meskipun akhirnya penulis tersebut ditangkap dan bukunya dilarang beredar, isu kadung menyebar dan hingga kini masih menjadi kabar burung mengenai benar atau tidaknya.

Perlu Klarifikasi

Isu yang menerpa calon presiden Joko Widodo adalah salah satu bentuk pembunuhan karakter jika ternyata apa yang didengungkan tidak terbukti. Dengan isu tersebut, mau tidak mau kepercayaan publik pada calon incumbent terpengaruh dan bisa saja menurun.

Akan tetapi, isu yang tersebar memang perlu ditanggapi dengan bijak. Joko Widodo memang telah mengatakan bahwa ia bukan anak PKI, tetapi mash banyak publik yang meragukan pernyataan tersebut.

Klarifikasi adalah salah satu solusi yang tepat dan sebaiknya dilakukan oleh pihak Joko Widodo. Mengenai buku karangan Bambang Tri, buku tersebut seharusnya dibedah dan dibahas fakta yang sebenarnya. Selain itu, Joko Widodo akan lebih baik jika dalam kampanye menjelaskan bagaimana kehidupan masa kecil serta silsilah keluarganya.

Dengan cara ini, isu yang beredar tentu bisa di klarifikasi dengan baik sehingga tidak menjadi bola liar yang mengganggu dan akan menguntungkan bagi Joko Widodo sendiri. Selain itu, sebagai masyarakat awam, isu semacam ini tidak perlu dibesar-besarkan. Jika penasaran, researches adalah solusi. Carilah kebenaran dengan pencarian.